| Sunrise di Bukit Tranggulasi |
Memburu Sunrise Di Bukit Tranggulasi
Gaung keindahan pemandangan di bukit
Tranggulasi sebenarnya udah sering didengar, tapi baru kesampaian kesana
kemarin tanggal 4 juni 2015. Lokasi yang cukup dekat dari rumah karena cukup 30
menit perjalanan kelokasi membuat rasa penasaran yang kian menggebu. Apalagi
sudah lama tak menikmati sunrise digunung atau bukit.
Tepat sore itu jam 16.00 waktu Indonesia
Purwokerto kita meluncur kelokasi. Perjalanan dari Purwokerto ke lokasi
parkiran Tranggulasi didominasi dengan jalan menanjak,bahkan 500 meter sebelum
lokasi tanjakannya cukup tinggi dan bukan jalan aspal, melainkan jalan yang
baru dicor dengan semen. Kita sampai dilokasi parkiran yang sekarang di dinding
tebingnya diukir dengan kata-kata "B. Tranggulasi" sekitar jam 16.30,
tarif parkir dilokasi cukup Rp. 3.000,- tanpa tiket masuk kelokasi. Jalan dari
parkiran ke lokasi kemping cukup dekat karena cukup jalan kaki dengan tracking
jalan tanah berdebu sekitar 5 menit saja.
Jarum jam menunjukan pukul 17.00 dan matahari
mulai terbenam dibalik bukit, tenda kami pun selesai didirikan. Kopi sore kami
nikmati sambil memandang sejauh mata memandang view yang indah mulai dari
Baturaden, seluruh kota Purwokerto sampai PLTU Cilacap juga kelihatan.
| Suasana malam dengan pemandangan lampu kota |
Menjelang petang para pendaki yang lain mulai saling
berdatangan malam itu. Suasana yang tadinya sepi hanya suara serangga dan
hembusan angin kini ditambah suara pendaki yang membawa gitar sampai mp3
player. Suara yang sedikit mengganggu buat kami yang membutuhkan ketenangan
tapi tak begitu kami hiraukan karena begitu menikmati lampu malam dari
Baturaden sampai Purwokerto ditambah cerahnya langit dengan gemerlap bintang
bersinar.
Udara malam di bukit Tranggulasi cukup dingin
karena angin gunung mulai turun. Angin yang bikin tenda kita goyang goyang dan
bisa matahin frame tenda. Tapi untungnya angin yang besar tak berlangsung lama
karena menjelang tengah malam jadi lebih tenang, tapi rasa dingin malah tambah
mejadi seirama sinar rembulan menyinari malam kita.
Menjelang malam ternyata ketambahan tamu lagi.
Iya, Aji Balenk, Aan, Eacha dan Istri, mba Ida nusul keatas. Namun Escha dan
Istri sama mba Ida terus turun lagi karena mereka tidak bawa perlengkapan untuk
bermalam. Jadi malam itu saya, Aji, mba Olipe dan Aan yang bermalam di bukit
Tranggulasi.
Jam 01.30 kita memutuskan untuk tidur karena
takut paginya kesiangan. Pagi sebelum alarm jam berbunyi saya sudah bangun
duluan, bukan karena terlalu bersemangat sampai gak bisa tidur tp karena
bisingnya diluar tenda. Iya, ternyata diluar tenda sudah banyak banget pendaki
yang berburu sunrise juga.
Langit diujung timur sudah berwarna merah dengan siluet megahnya Gunung Sindoro dan Sumbing. Sungguh indah hingga kami langsung bergegas keluar tenda.
Langit diujung timur sudah berwarna merah dengan siluet megahnya Gunung Sindoro dan Sumbing. Sungguh indah hingga kami langsung bergegas keluar tenda.
![]() |
| Gunung Sindoro Sumbing |
| Perjalanan turun |
Kopi pagi dan hangatnya mentari serta cahaya
kuning yang membuat siluet Sindoro Sumbing benar-benar menghipnots kita akan
kesibukan dan rutinitas kita sehari-hari. Tepat pukul 06:06 matahari mulai
muncul dari ufuk timur menyinari bumi Purwokerto dan sekitarnya. Semua mata
dari kami pencari sunrise tak henti-hentinya menatap ketimur dan tidak lupa
berfoto ria.
| Tenda kami |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar